Bimbang dapat Berguna

Kita dapat mengajak seekor kuda ke sungai jernih untuk minum, namun kita tidak dapat membuat dia minum.  Bagaimana dengan iman? Bisakah kita membuat seseorang menjadi beriman?

Sebelum membahas iman, baiklah kita lihat yang lebih mudah dulu , yaitu agama. Dapatkah kita membuat seseorang menjadi beragama?

Jawabannya bisa. Agama dapat diwariskan by default oleh orang tua kita masing-masing. Dapat juga lewat  sekolah dengan adanya pelajaran agama tentu dapat membuat orang  mengetahui sejumlah spesifikasi agama itu, seperti asal usulnya ,peraturannya dan keyakinannya. Tingkat intensitas pengajarannya bisa bervariasi mulai dari sekadar pemberian informasi secara Laissez faire(terima syukur tidak ya sudah) sampai secara indoktriner karismatik. Produk dari pengajaran ini bermacam macam , dari orang yang hanya mengetahui agama sebatas tertanda di KTP saja sampai Fanatik, bahkan Fanatik total sehingga bunuh diri pun rela jika disuruh.

Sekarang tentang iman.  Iman berbeda dari agama. Agama adalah sesuatu yang statis dan tetap, sedangkan iman bersifat dinamis. Agama secara fisik terlihat lewat symbol, ornamen ,bangunan, dan pakaian. Iman tidak tampak. Agama berbicara mengenai Do’s and Don’t sedangkan Iman berbicara mengenai saling mempercayai dan mempercayakan diri.

Makin tampak perbedaan antara iman dan agama. Agama adalah barang jadi, sdangkan iman masih harus dibuat. Agama bisa ditelan bulan-bulat, sedangkan iman masih perlu dikunyah. Agama sudah siap saji, sedangkan iman masih harus melalui proses masak.

Kebimbangan dalam hidup wajar sebagai proses pertumbuhan iman

Seseorang yang memiliki Iman sebesar dan sekecil apapun pasti akan mengalami kebimbangan. Bimbang itu bukan sesuatu yang buruk, karena dengan bimbang, maka kita menjadi bersungguh-sungguh mencari iman yang menjawab persoalan hidup.  Kebimbangan bisa berguna dan produktif, asalkan tidak berhenti pada rasa bimbang melainkan terus bertumbuh dalam proses pengenalan dengan sang Pencipta.  Sepanjang hidup kita bertumbuh dalam iman melalui turun-naik dan jatuh-bangun dalam kebimbangan. Tiap golongan usia mempunyai kebimbangannya sendiri. Kebimbangan masa remaja berbeda dari kebimbangan masa dewasa dan berbeda pula dari kebimbangan masa usia lanjut. Kuncinya di sini  adalah bertumbuh.

Iman memang berjalan secara  secara turun dan naik. Rasa bimbang membuat kita meragukan, mempersoalkan dan mencermati iman kita sehingga kita menjadi lebih kritis. Hasilnya adalah pertumbuhan dan kematangan. Iman yang ditelan secara bulat-bulat akan membuat kita berwawasan sempit dan fanatik, sedangkan iman yang disertai kebimbangan  akan membuat kita berwawasan luas dan matang. Iman adalah seperti baju. Ketika tubuh kita bertambah besar, baju itu terasa kecil dan perlu diperbesar atau dipermak.

Bersikap bimbang atau skeptis terhadap iman bukan menghalangi pertumbuhan iman, melainkan justru bisa mematangkan iman. Bukankah kata skeptis (Yunani. Skeptomai) sebenarnya berarti mencermati secara teliti bukan?

Iman adalah hubungan, yaitu hubungan mempercayai dan mempercayakan hidup kita akan Janji-Nya. Tidak ada hubungan yang bisa dibentuk sekali jadi. Sebuah hubungan selalu pasang surut. Seperti halnya hubungan asmara. Ada saat panas menggebu, ada pula saat dingin membeku. Ada saat rayu merayu, ada pula saat layu. Ada saat lemah lesu, ada pula saat menggelora penuh nafsu. Ada saat seru, ada pula saat kaku bak seteru.  Demikianlah proses ini terjadi supaya ada pemahaman pola pikir yang sama dan pengertian yang mendalam antara kedua pihak. Itulah hubungan , dan iman adalah sebuah hubungan.

inspired by Andar Ismail

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.